jika ditanyakan,"jenuhkah belajar di luar kota, menjadi mahasiswa dan jauh dari orang tua.?" maka dengan pasti saya jawab," tidak!! saya bahagia disini." lalu jika ditanyakan lagi, "apakah jawaban ini berlaku untuk semua orang.?" ternyata tidak. kadang kita lupa akan potensi kita menjadi orang yang bijak, yakni melihat segala sesuatunya tidak dengan emosi dan subyektif sudut pandang sendiri. suatu ketika kita merasa menjadi orang yang paling malang diantara setiap orang hanya karena nilai ulangan yang selalu jelek. ketika merasa paling malang saat melihat teman-teman yang lain mendapatkan segala fasilitas yang lengkap sedangkan kita tidak. inilah kekeliruan itu. ada sebuah cerita yang akan saya sampaikan kepada pembaca. terlepas apakah dapat menjawab permasalahan di atas atau tidak, tapi saya harap bisa menjadi bahan perenungan yang setidaknya bisa kita jadikan pengantar tidur
Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…
“
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …
aku
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…